Dua Saksi dan Pejuang TNI AU Mengisahkan Perjuangan Menumpas Komunis



Tamu kesatriaan pangkalan udara, berujung perampasan senjata

Catatan bertinta emas tidak akan pernah pudar dalam catatan Lanud Harry Hadisoemantri Sanggau Ledo. Perannya dalam mendukung operasi dwikora dan penumpasan PGRS/PARAKU dalam mempertahankan NKRI di wilayah borneo masih bertengger dibenak sanubari purnawirawan Angkatan Udara yang mengetahui kejadian tersebut.




Adalah mbah Sukarno, pria kelahiran Yogyakarta 1 April 1938 ini awalnya menjadi pegawai sipil pangkalan udara kemudian diangkat menjadi anggota militer. Dalam kariernya mbah Karno ditugaskan sebagai personil perbekalan pangkalan.

Beliau menceritakan perampasan senjata oleh komunis saat itu seperti sudah direncanakan. Sehingga petugas piket tidak menyangka akan terjadi penyergapan. Mbah karno mengenangkan, musuh menggunakan pisau untuk melumpuhkan rekannya. Setelah itu gerombolan membawa kabur seluruh senjata yang semula diperuntukkan dalam operasi dwikora.




Hal senada juga dibenarkan oleh mantan Danlanud Singkawang II, Letkol PNB (Purn) Edward Tenlima alias Edo lulusan penerbang Yugoslavia. Bahwa gerombolan yang menyusup masuk tersebut merupakan komunis dari cina daratan, bukan cina nusantara. Hal itu dikarenakan kelompok komunis itu tidak dapat berbahasa  Indonesia.


Gerombolan itu kemudian memanfaatkan pemukiman cina daerah lembang, sanggau ledo sebagai tempatnya berafiliasi. Sehingga sejak tersebar berita tentang perampasan senjata milik TNI itu, pasukan pemukul dikirim dari Jawa yakni pasukan elit ABRI yang tergabung dalam Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kompasgat) yang dikenal dengan nama PGT dari TNI AU.





Pasukan PGT ini kemudian diturunkan melalui penerjunan udara dari pesawat Hercules untuk menggempur, menyisir dan melumpuhkan gerombolan yang telah merampas senjata. Karena saat itu jalur serang yang paling efektif adalah lewat udara. Mengingat wilayah tersebut saat itu masih hutan belantara.

Dari serangan Komando Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang didatangkan tersebut membuat para komunis kewalahan dan melarikan diri serta mencari perlindungan di daerah perbukitan sungkung komplek.


Seluruh komponen bangsa bersatu melawan komunis


Letkol PNB (Purn) Edward Tenlima menceritakan, bahwa ia juga pernah ikut menggempur kelompok komunis itu lewat serangan udara yang ditujukan ke gua gua yang menjadi perlindungan komunis saat itu. Namun karena tempat persembunyian komunis itu dilindungi batu batu besar (orang sungkung menyebut gua gayu) tidak tembus ditembak. Akhirnya harus menggunakan senjata lebih besar dan dikombinasikan dengan bom.



Usai serangan Komando Pasukan Gerak Tjepat TNI AU tersebut kondisi mulai sedikit reda. Namun kemudian untuk memastikan wilayah tersebut bersih dari komunis pemberontak, operasi penyisiran dilanjutkan oleh pasukan Angkatan Darat dari Kujang Jawa Barat. Penyisiran dilakukan diseluruh wilayah yang diduga masih dihuni oleh komunis komunis yang merampas senjata milik TNI. Persembunyian mereka di camp camp kecil kemudian diketahui oleh pihak TNI dan segera mengatur strategi penyerangan untuk mengempur salah satu rumah yang diduga sebagai kediaman pimpinan gerombolan. Dari serangan TNI tersebut pimpinan gerombolan komunis yang berasal dari singapura gugur, dan anggotanya yang masih hidup lari untuk menyelamatkan diri dan tercerai berai.


Letkol PNB (Purn) Edward Tenlima juga mengisahkan, bahwa TNI Angkatan Laut juga ikut mendukung penumpasan komunis di daerah tersebut, namun beliau tidak ingat nama satuan yang ikut operasi dari TNI Angkatan Laut. 


Dari kisah tersebut, dapat dimaknai betapa gigihnya perjuangan TNI yang datang dari berbagai satuan dalam menumpas habis para komunis  bersama rakyat Indonesia diwilayah Bengkayang. Itu menggambarkan bagaimana persatuan dan gotong royong telah terbina pada semua elemen bangsa sejak dahulu untuk melawan musuh.


Dalam peringatan ke 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini, dua sosok yang menjadi saksi dan pelaku perjuangan itu menghimbau, agar semua warga Indonesia khususnya generasi muda harus tetap menjunjung tinggi nilai persatuan dan toleransi, agar musuh tidak dengan mudah memporakporandakan kebhinekaan yang ada pada negeri ini.


Tetap waspada dan rawat persatuan


Selalu waspada, karena bahaya laten dan paham-paham radikal mungkin masih ada. Tetapi dengan pengawasan yang menyatu dan terkonsentrasi akan menaklukkan paham dan bahaya laten itu. Dirgahayu Kemerdekaan lndonesia, Bangsa yang besar dan disegani. Salam persatuan. Merdeka...



Penulis : Darius Tarigan



0 comments :

Copyright © 2013 TVRI Kalimantan Barat .